by

Semua Agama, Haramkan Praktik Riba

Jakarta, karenamedsos.com – Riba, secara makna istilah (terminologi) riba adalah kelebihan/tambahan dalam pembayaran utang piutang/jual beli yang disyaratkan sebelumnya oleh salah satu pihak.

Riba terjadi, karena ada orang atau lembaga yang meminjamkan uang, dengan mensyaratkan tambahan uang lebih, dari pokok pinjaman, saat pengembalian oleh orang yang meminjam (nasabah).

Nah, tambahan uang lebih itulah, yang disebut riba.

Riba, saat ini dikenal dengan sebutan bunga, denda dan pinalti.

Membayar telat, dikenai denda dan membayar cepat, dikenai pinalti.

Praktik riba, mengakibatkan masyarakat sengsara, maka dalam semua agama, praktik riba dilarang.

Saat ini, di media sosial atau dunia maya, internet, bertebaran para pelaku riba, mencari mangsa, baik sales bank menawarkan pinjaman modal, sales properti kredit pemilikkan rumah (KPR) dan sales motor mobil menawarkan leasing kredit kendaraan.

Ada juga sales bank, menawarkan kartu kredit, dan yang paling marak adalah pinjaman online.

Syarat meminjamnya dibuat mudah, bahkan diiming imingi bonus yang menarik. Tapi saat nasabah atau konsumen tidak mampu mengembalikan pinjaman, atau kreditnya macet.

Pihak yang meminjamkan uang tadi, akan menambahkan bunga, dilipat lipatkan, menambahkan denda dan menagih bahkan dengan cara kasar.

Bagi yang sanggup dan bersedia, orang tersebut akan hidup lancar, tapi hidupnya tetap berhutang pada bank, tidak pernah ada habisnya, selesai hutang pertama, hutang lagi, selesai lagi, hutang lagi, terus hutang lagi silih berganti hingga ia mati.

Selama hutang pada lembaga keuangan dengan sistem riba itulah, dia dinamakan pelaku dan pemakan riba. Dalam agama, merekalah yang hidup bergelimangan dosa.

Sebab dosa riba, tidak bisa diganti dengan pahala amalan apapun di dunia.

Bagi masyarakat yang tidak sanggup mengikuti aturan riba, banyak masyarakat yang terjerat dan tercekik utang riba.

Namun yang memahami cara penyelesaian hutang riba, mereka akan lunas hutang dan hidup bahagia. Tapi bagi yang tidak tahu cara menyelesaikan hutang riba, hidupnya sengsara, bahkan ada yang mengambil jalan pintas, bunuh diri.

Larangan Riba Umat Islam

Alqur’an : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imron [3]: 130)

Dalam hadits Nabi Muhammad Saw menjelaskan, siapa saja pelaku riba.

Hadits : Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallahu ‘alahiwasallam bersabda, “Allah melaknat orang yang memakan (pemakai) riba, orang yang memberi riba,dua orang saksi dan pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”.(HR. Muslim dan Ahmad)

Larangan Riba Umat Yahudi:

Kitab suci Taurat : Exodus 22:25 = (Tuhan berkata): jika kamu meminjamkan uang diantara kamu kepada salah satu dari orang-orang Ku yang membutuhkannya, maka jangan kamu berbuat seperti yang dilakukan ”money lender” (dengan mengenakan bunga), jangan dibebankan bunga (no interest) kepada peminjam itu (dikutip dari versi Internasional yang baru).

Dalam agama Yahudi, Kitab Taurat (bahasa Yahudi untuk Hukum Musa atau Pentateuch, lima kitab pertama Perjanjian Lama) melarang riba di kalangan bangsa Yahudi, sementara paling tidak satu orang ahli melihat dalam Talmud (Hukum Lisan yang melengkapi Kitab Tertulis untuk kaum Yahudi ortodoks) suatu bias yang konsisten terhadap ‘kemunculan riba atau laba’ (Neusner, 1990).

Larangan Riba untuk Kaum Nasrani:

Injil Leviticus 25:35-37 (Tuhan berfirman):

  1. Jika ada salah satu dari rakyat bangsamu menjadi miskin dan tidak mampu menghidupi dirinya, bantulah dia seperti halnya kamu (membantu) orang asing atau pendatang, hingga ia dapat melanjutkan kehidupannya diantara kamu.
  2. Janganlah mengambil sesuatu bunga darinya, tetapi takutlah kepada Tuhanmu, sedemikian sehingga penghuni desamu dapat melanjutkan untuk tinggal / hidup diantara kamu.
  3. Kamu tidak boleh meminjamkan uang kepadanya dengan berbunga atau menjual makanan padanya dengan suatu laba.

Laranga Riba dalam agama Hindu & India Kuno

Di India Kuno hukum yang berdasarkan Weda, kitab suci tertua agama Hindu, mengutuk riba sebagai sebuah dosa besar dan melarang operasi bunga (Gopal, 1935: Rangaswani, 1927). Vasishtha, pembuat hukum Hindu yang terkenal sepanjang waktu, membuat hukum khusus melarang kasta yang lebih tinggi Brahmana dan Ksatria, meminjamkan dengan bunga (Visser dan Mcintosh, 1998).

“Semua agama, mengharamkan praktik riba” kata Ahmad Haikal Hassan, S.T., M.T. seorang pendakwah dan pakar sejarah agama islam. (uha)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed